Weaning With Love

twins

Maryam Aisyah 1 tahun 10 bulan

Saya termasuk yang gagal Weaning With Love sama si Twins (Maryam – Aisyah)…

Maaf ya Twins… kalian Ummi sapih paksa saat Aida sudah 6 bulan bersemayam di rahim, sedang usia kalian saat itu 2 tahun 3 pekan.

Bukan karena ngikuti mitos,.. tapi Ummi kalian tidak bisa tahan dengan magh yang cukup akut.

Menyusui kalian berdua plus asupan buat Aida di rahim…sementara magh sering kumat, jadilah kalian Ummi paksa sapih. Padahal rencana menyusui kalian sampai kalian sendiri yang minta berhenti.. Tapi rencana tinggallah rencna,,

Paksa sapih dengan olesan biji mahoni yang pahit..menjadi kesalahan pertama ummi pada kalian..

Sampe sekarang kalau ummi candai kalian dengan mimik,,kalian selalu bilang :  “nggak, pahit !”. Rasanya nyesss di hati.. Seolah kenangan menyusui itu jadi sesuatu yang menakutkan bagi kalian.. Padahal momen itu harusnya jadi momen yang indah bagi kita..

Kalian yang sering nangis minta mimik saat proses penyapihan, sementara Ummimu mabok berat di usia kehamilan awal..dan lengketnya kalian sama ummi, sedih, ruwet, jengkel jadi satu….

Akhirnya iming-iming  “elus2 mimik aja ya?”  sebagai penghantar tidur, menjadi kesalahan kedua ummi pada kalian yang sampai sekarang masih belum bisa lepas..

Dan rebutan mimik sm aida menjelang kalian tidur menjadi pemandangan lumrah sampe sekarang..

Saat itu…saat di mana pertama kalinya elus-elus ditawarkan, saya masih inget wajah melas Aisyah…dia cuma bilang “elus elus.. Elus elus” sampai tertidur..

Sampai2 karena terenyuhnya hati ini, Ummi ingin mimik-in lagi kalian..

Bagaimana pun..
Menyusu bagi kalian adalah interpretasi kasih sayang Ummi pada kalian,,
Menyusu bagi kalian mungkin bentuk ternyaman dan teraman yang kalian rasakan karena berdekatan dengan ummi yang sejak dalam rahim sampai kalian lahir “Ummi adalah dunia kami”

Sejak kelahiran kalian, pertama yang disodorkan adalah mimik,, maka wajar jika kalian seperti kehilangan benda paling disayang saat proses penyapihan dilakukan, apalagi prosesnya pemaksaan

Baper jadinya ini mah..
Emak2 sekalian, jangan kayak saya ya.. Usahain WWL deh sama baby nya kelak ya

Berikut adalah tips dan pengalaman menarik yang saya copy dari postingan fb Wita ElQanita.

====================

Menyapih Anti Baper

====================

Mendekati usia anak dua tahun, sepakat atau tidak jika salah satu yang difikirkan seorang ibu menyusui adalah bagaimana menyapihnya…??
Saya empat kali menyusui, sekarang saja umur aisyah masih setahun, malah saya sering berfikir apakah aisyah bisa disapih dengan proses lancar jaya seperti uda-udanya? Bukankah setiap anak adalah berbeda?

Mari otakku, berfikirlah positif. Selama proses yang dijalankan selama ini tidak merugikan baik pribadi maupun anak, bismillah… mari lakulan kembali… Tapi satu tahun lagi ya…

Menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana menyapih ala saya (ke-pe-de’an boleh ndak…?), izinkan saya berbagi dan kiranya nanti ada kekeliruan, mohon maaf & #wajib dikoreksi. Oce mak?
Sebelumnya semoga Allaah ta’ala senantiasa menjaga diri ini dari sifat takabur, karena semua adalah mutlak atas izin Allah ta’ala. Masih ada tantangan untuk proses menyapih aisyah setahun lagi atau mungkin masih lagi ada adik-adiknya kelak (bukan harapan saya ya, itu harapan Ayahnya…)

Sebelumnya lagi saya minta maaf jika bahasa-bahasa yang saya gunakan adalah bahasa awam. Karena saya juga kurang gaul dengan bahasa-bahasa emak jaman now
Saya dengar ada istilah-istilah dalam penyapihan itu ada kata “sounding”, ada “WWL” alias Weaning Whit Love, ada apa lagi mak? Saya kurang update   Maklum, emak-emak jadul

Menyapih bagi saya, ada kata kuncinya, yaitu:

 Ciptakan rasa nyaman
Kenapa mak?
Menyusui bukan hanya sekedar proses memberi makan dan minum anak saja. Tapi pada menyusui sianak menemukan tempat nyaman pertama kali ia menghirup udara dunia ini.
Tempat nyaman pertama yang ia dapati adalah dekapan seorang ibu. Apalagi ada plusnya, yaitu memenuhi kebutuhan makan dan minumnya.

Nah, kita akan memberikan suatu proses kepada anak, dimana anak akan melepaskan rasa aman yang berbentuk menyusui.
Mari mak, kita bawakan kepada diri kita ketika kita kehilangan suatu tempat nyaman yang selama ini menyertai.

Mungkin bisa berupa kematian. Apa yang akan terjadi pada diri kita kira-kira mak? Sedih, galau, atau ada yang stress.
Apalagi anak, tempat nyaman yang ia dapati sejak pertama kali ia muncul kedunia ini.

Maka, berikanlah suatu proses dimana mereka tidak merasakan kehilangan akan rasa aman tersebut.
Berikan ia rasa aman yang lain yang setahap demi setahap mampu terbentuk dalam fikirannya bahwa tempat nyaman bukan hanya ketika menyusui saja.

 Kedua, jangan pernah bohongi anak.
Seperti halnya kita tak ingin dibohongi, begitupun anak. Apalagi jika kita ternyata memberi saham pada anak untuk mengajarkannya berbohong.
Ketika kita membohonginya, bukanlah proses untuk membohonginyalah yang terjadi, tapi kita telah memberikan proses untuk ia belajar berbohong dalam kehidupannya.

Apa saja itu mak misalnya membohongi anak dalam penyapihan?
 Memberikan pahit-pahit pada PD kita agar sianak jera menyusui
 Mengatakan PD kita sakit atau tidak ada lagi mimik didalamnya
 Menjauhi anak seperti mengantarkannya pada saudara atau ortu untuk sementara hingga ia bisa melupakan mimik.

 Bahaya pertama, memberi perasa pahit pada daerah PD.
Apakah kita yakin, bahan-bahan yang kita berikan tidak ada efek apa-apanya terhadap anak? Mungkin disebagian anak ada yang cocok, bagaiamana jika pada anak kita ternyata tidak cocok?
Satu hal, anak-anak usia penyapihan bukan berarti ia belum bisa berfikir. Mereka juga pun manusia yang telah diciptakan akal fikiran…
Ia akan berfikir, selama ini mimik mama baik-baik saja, kenapa sekarang rasanya tidak enak?
Rasa aman yang selama ini mereka punya tiba-tiba menjadi momok yang menakutkan 
Rasa aman yang mereka miliki sejak baru saja menatap dunia ini tiba-tiba harus diliputi rasa takut, cemas, bingung, sedih, untuk ia dekati…
Saham lain yang telah kita tanam adalah, akan terekam dalam fikirannya suatu kewaspadaan setiap kali ia akan memenuhi atau mendekati rasa aman.
Saya jadi ingat pembahasan salah seorang dosen dulu. Ketika dewasa, pergaulan, teman dekat bahkan pasangan hidup merupakan diantara rasa aman yang ingin dipenuhi. Jika dahulunya pernah tertanam rasa trauma untuk mendekati suatu rasa aman, ia akan menjadi pribadi yang mudah cemas dan takut memulai mendapati rasa aman tadi (pergaulan, teman dekat, pasangan hidup).
Begitulah kira-kira pembahsannya dulu. Mengenai bahasa-bahasa istilahnya, wah saya sudah lupa 

 Jangan mengatakan jika PD kita sakit atau tidak lagi ada mimiknya. Karena bisa jadi ia akan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kemarin-kemarin mimik mama masih ada, kenapa sekarang habis? Kemarin-kemarin mimik mama masih sehat, kenapa sekarang sakit? Apakah karena saya…?
Apakah saya penyebabnya?
Apakah saya sudah jahat sama mama?
Kenapa saya katakan “bisa jadi”? Karena bukanlah suatu yang instan untuk melepas rasa aman. Ia akan melalui suatu proses. Kita saja kececeran kunci pastinya akan banyak pertanyaan-pertanyaan bahkan penyalahan yang hadir dalam fikiran kita. Apalagi rasa aman perdana pada anak. Mungkin bisa dikatakan “cinta pertama” kali ya mak…??

 Menjauhinya sangatlah kejam…
Ini pernah disarankan ibu saya ketika faris. Ibu saya melarang saya untuk menyusui faris setelah saya diketahui “ternyata” hamil lagi (hamil athif).
Mitos emak-emak dahulu adalah ASInya sudah tak baik lagi diberikan kepada anak.
Itu mitos ya mak… Selagi kita bisa dan kuat, berikanlah hak ASInya hingga full dua tahun…
Dengan sangat terpaksa saya menolak saran ibu saya

Terbayang ga mak?
Untuk melepas mimik saja anak akan mendapati perasaan sedih, galau, hancur. Apalagi tiba-tiba harus dipaksa berpisah dengan kita yang selama ini menemaninya, memeluknya saat tidur, meletakkannya dalam pangkuan ketika menyusui…
Berapa rasa hancur hati yang ia dapati mak…???
Betapa hancur dan berkeping-kepingnya perasaannya saat itu.
Mungkin saudara atau nenek-kakeknya bisa mengalihkannya dengan mengajak kesana-kemari, beli ini dan itu, beli mainan ini dan itu.
Namun, bagaiamana jika kebiasaannya terjaga malam hadir?
Disaat terjaga, bukanlah sosok mama yang ada disebelahnya. Heningnya malam menjadikan hatinya semakin hancur… Sunyi… Sepi… Mana cintaku…?? Cinta pertamaku hilang…
Mungkin itu contoh suara hatinya kali ya mak…?
(Gimana mak, ada yang baper membayangkannya mak?  

Maka mak… Mari kita tinggalkan cara-cara seperti itu…

  Kunci penutup saya adalah banyak-banyak sediakan stok sabar menjalani proses. Karena proses menyapih bukan hanya untuk anak, tapi untuk kita juga…

 
Nah, nah,
Gimana dong caranya…??
 

 1. Jauh hari sebelum masa penyapihan, mari kita beri pengertian kepada anak dengan bahasa yang bisa mereka pahami. Itu bahasa saya. Kalo bahasan kerennya di”sounding”😁
Ajak mereka memahami kalau tidak selamanya kita harus mimik, karena kita sudah besar. Bisa bermain dengan teman-teman. Malu kan kalau teman-teman lihat kita masih mimik…?😄
Jika ia memiliki teman sepermainan yang tidak lagi mimik, mungkin bisa diambil contoh bahwa temannya siA atau siB tidak lagi mimik, karena sudah besar.
Jika proses tersebut mulai bisa diterima sianak, mari kita masuk ketahap berikutnya…

 3. Mulailah jangan membiasakan sianak menjadikan mimik sebagai penghantar tidur…
Karena itu akan kita dapati kesulitannya saat malam hari ia terjaga.
Mungkin ketika matanya mulai sayu ketika menyusui, kita bisa mengalihkannya dengan bercerita sambil memegang-megang tangannya barangkali. Ketika dirasa ia sudah kenyang dan melepaskan PD kita, barulah kita tidurkan…

 3. Kita harus kenali terlebih dahulu berapa kali anak menyusu saat siang dan berapa kali menyusu terjaga malam. Ini penting dalam proses…

 4. Mari kita mulai…
Ketika biasanya sianak menyusu 6X disiang hari. Maka kurangi satu kali menjadi 5X.
Bagaimana caranya?
Mari bermain cantik…
Mungkin bisa mengalihkannya pada makanan atau minuman yang ia sukai, mainan atau permainan yang ia gemari, atau apalah itu, tentunya emak yang lebih tau.
Awal-awalnya saja memang sedikit sulit mak, namun itulah proses.

Setelah anak terbiasa 5X mimik disiang hari, mari kita kurangi lagi menjadi 4X.
Prosesnya sama, hingga ia terbiasa untuk tahapan-tahapan pengurangan waktu menyusui selanjutnya…

Nah, bagaiman dengan malam?
Itu tadi triknya:
Jangan jadikan proses mimik sebagai penghantar tidurnya.
Ketika terjaga malam gimana mak?
Kembali, alihkan pada “media” lain yang bisa ia mendapati rasa nyaman disana. Tentunya lagi emak labih tau. Mungkin ada yg biasanya menceritakan sebuah kisah kepada anak, memberikan makanan atau minuman kegemarannya, atau apalah yang bisa mengalihkannya minta mimik.

Pasti sulit mak, menidurkannya…

Untuk awal-awal memang. Proses anak mendapati suatu pelajaran adalah melalui pembiasaan. Maka biasakanlah…

Ada satu kunci kecil disini…
Apa itu…?
Ketika awal2 pembiasaan yang kita berikan jangan pernah menolak dan pun harus tega dan tegas untuk tidak memberikan atau menyodorkan PD kita…
Menolak? Proses akan gagal atau setidaknya menghadapi kesulitan.
Menyodorkan kembali karena tidak tega? Itu sama artinya kita kembali keproses sebelumnya. Selamat berlama-lama dalam proses… 

Bagaimana dong caranya, kadang dak nahan dengar rengekannya…
Mari mak, berfikir dan bermain cantiklah…
Jangan ikut galau dan baper.
Kita sedang menyuguhkan suatu proses yang #harus ia lalui dalam kehidupannya. Bagaiamana prosesnya tergantung pada kita emaknya…
Proses itu pasti, akan, dan harus mereka lalui.
Namun berikanlah proses yang mampu menjadikannya tumbuh dengan baik dan semestinya…
Selamat menyuguhkan dan menjalani proses…  

Adakah manfaaatnya…???
Sangat ada sekali… 

 Anak tidak begitu merasakan suatu proses yang sedang kita suguhkan padanya. Karena prosesnya bertahap dan pembiasaan, mereka cenderung tidak merasakannya. Jika prosesnya menurut langkah-langkah saya diatas, insyaAllah, bi idznillah tidak akan menemukan kesulitan yang terlalu, lakukanlah, sudah saya rasakan… 

 Dengan proses yang bertahap, maka proses pembentukan ASI juga akan bertahap berkurang. Karena ASI adalah menurut sesuai permintaan. Makin sering terjadi “pengemutan”, maka makin terjadi proses pembentukan ASI.
Sebaliknya, makin sedikit terjadi “pengemutan”, maka akan semakin sedikitpun produksi ASI…

Banyak para emak yang mengeluhkan sakit pada bagian PD usai penyapihan. Itulah akibat penyapihan instan atau dadakan.
Bahkan katanya ada juga yang sampai mengalami demam. Saya juga kurang tau karena belum pernah merasakannya.
Jika prosesnya bertahap seperti diatas, maka insyaAllah, bi idznillah tidak akan menemukan kondisi seperti itu…

 Dengan proses yang kita lalui, fikiran kita akan disibukkan dengan trik-trik yang cantik untuk siasatnya. Maka rasa baper, galau atau teman-temannya akan kabur dengan sendirinya, bi idznillah…

Mari mak,
No pahit-pahit
No tipu-tipu
No sakit pada PD
Tentunya…
No kisah baper…
Anak aman, ibu tenang, bi idznillaah…  

Banyak maaf jika keliru dan mohon koreksinya  

Berhasil diproses ini, bukan berarti saya juga berhasil pada proses lainnya karena saya hanyalah manusia biasa tempatnya salah
Belajar dan berproses untuk lebih baik, itu lebih utama, aamiin…

Ummu Faris,
Padang Panjang, disiang yang masih tetap dingin, 02 Agustus 2018

 

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi

Dapatkan Konten terbaik seputar keluarga dan mendidik anak perempuan langsung melalui Email

Kami juga rutin bagi-bagi hadiah kepada member terpilih setiap bulannya
Nama Depan
Alamat Email
Email Anda In Sya Allah aman bersama kami. Kami sangat menghargai privasi orang lain