Berlaku adil, berlaku bijaksana

Pernahkah kita merasa kecewa menghadapi perlakuan tidak adil dari orang-orang di sekitar kita ?

Barangkali tak ada seorang pun di muka bumi ini yang tak pernah diperlakukan tidak adil oleh orang lain.

Sedih, marah dan kecewa adalah efek yang wajar dari perlakuan tidak menyenangkan tersebut.

Namun pernahkah kita berpikir bahwa mungkin kita juga pernah berbuat tidak adil pada orang lain ?

Dalam kehidupan masyarakat jawa ada istilah mban cinde mban ciledan yang biasa ditujukan pada orang yang berbuat tidak adil atau pilih kasih.

Misalnya, guru atau orang tua “enteng” saja mengingatkan siswa atau anak yang membuang sampah sembarangan dengan nada tinggi, cenderung memarahi.

Sebut saja Adi, seorang murid yang tak begitu pandai, kurang memperhatikan pelajaran dan terkenal sebagai anak bengal di sekolah. Jadi guru tadi merasa “wajar saja” ndukani anak tersebut.

Namun saat Andi sang juara kelas yang membuang sampah sembarangan, guru mengingatkan dengan nada bijak penuh kasih sayang.

Sepintas kedua peristiwa di atas bisa dimaklumi oleh siapa saja, bahkan mungkin oleh Andi. 

Aku adalah anak nakal, setiap hari dimarahi guru karena tidak memperhatikan pelajaran dan suka jahil pada teman-teman….

… Aku maklum bila hampir semua orang jengkel padaku. Kesalahan kecil bisa menyebabkan aku kena marah dan kupingku memerah karena jeweran…

…Tapi saat Andi melakukan kesalahan yanh sama denganku, tak ada tatapan marah dan jeweran. Tapi elusan di kepala…

…Ah tidak adil, mungkin lebih baik aku menjadi anak nakal saja, toh aku sudah kebal dengan perlakuan tak enak itu…”

Secara tidak langsung guru atau orang tua tersebut telah memberi investasi buruk bagi perkembangan mental anak.

Adi merasa telah ditetapkan sebagai anak nakal dan tak dihargai oleh orang-orang di sekitarnya.

Dia sebenarnya ingin menolak, namun tak ada yang peduli padanya dan keadaan itu.

Ketidakadilan perlakuan yang sering diterimanya mengukuhkan hatinya sebagai anak yang nakal.

Betapa miris akibat dari peristiwa yang tampaknya sepele tersebut.

Sebagai orang tua terkadang kita berlaku tak konsisten, tanpa memikirkan terlebih dahulu dampak berbahaya bagi perkembangan mental anak-anak.

Pernahkah kita berfikir bahwa kelembutan ucapan dan kasih sayang kita pada anak-anak, terutama mereka “yang nakal” itu seperti air jernih bagi mereka ? Yang memberi kebaikan baginya ?

Air jernih yang terus menerus dikucurkan ke dalam gelas berisi air keruh, lama kelamaan gelas tersebut akan berisi air yang jernih dan bening. 

Saya selalu terkenang pengalaman “memalukan” akibat ketidakadilan saya pada anak.

Suatu hari saya merasa jengkel pada anak sulung yang saat dipanggil berkali-kali tak kunjung beranjak menemui saya. Saya menghampirinya dengan kesal.

“Kak, ummi tidak dengar suara kakak. Kalau ummi panggil segera menjawab dan menghampiri ummi, jangan diam saja !”

Tadi kakak sudah bilang “Dalem, Mi” gitu’.

Tapi Ummi tidak dengar, jangan pelan dan harus segera melaksanakan perintah. Paham ?!”

Pada kesempatan lain, saya sedang sibuk fengan tugas. Saat si kakak memanggil, saya hanya menjawab ala kadarnya karena konsentrasi pada buku.

Tiba-tiba ia berkata, “Kakak gak denger suara Ummi”

Deg…

Saya pandangi wajah anak saya itu. Tak ada kekesalan dan kekecewaan disana. Dulu kalimat itu enteng terlontar padanya.

Saat itu saya baru menyadari betapa sakit dan malu menerima kalimat itu. Satu perbuatan ketidakadilan telah saya lakukan.

“Jangan mencubit jika tidak mau dicubit” adalah pepatah lama yang cukup bijaksana untuk kita jadikan acuan dalam kehidupan.

 

Semoga kita bisa memetik hikmah dari pengalaman ini dan terlindung dari perbuatan tidak terpuji bernama ketidakadilan.

 

“Sesungguhnya Allah (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dan memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS An Nahl : 90)

 

 

 

 

*Penulis adalah Parwanti (parwanti@yahoo.co.id)

Sumber : Majalah Hadila edisi 45, Maret 2011 kolom Muslimah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *